Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang
Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal milik PT
Pelni itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air laut masuk.
Tampomas II berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam pada akhirnya.Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat bicara. "Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya.
Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?"
Kisah itu tergambar dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II yang ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.
Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain untuk terjun ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam pasti lebih fatal. Ketika yakin semua penumpang sudah terjun ke laut, baru Rivai melompat dari kapal.
Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981 pukul 09.55 WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya, kapal itu berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.













0 komentar:
Posting Komentar